Blog
Education, Indonesiana, Jenaka, Kisah

Pondok Pesantren = Boarding School?

Sebulan lalu kebetulan keluarga kami sedang banyak berkunjung ke beberapa Pondok Pesantren di Jawa Barat, salah satunya adalah Nurul Fikri di Lembang, Kabupaten Bandung.

Semua sudah siap. Data-data yang diperlukan sudah dicetak, lokasi sudah diendus melalui paman peta, tanggal saatnya dipagu, sambal dibuat nikmat dan bekal pun sudah disandang. Kami bertiga berkendara dan berangkat bersenandung di sanubari masing-masing.

Menembus Dago atas ke Lembang, sekeluarnya ke jalan raya utama terbesitlah sebuah spanduk mini, yah mungkin hanya empatpuluh kali delapanpuluh, tertulis “Nurul Fikri Boarding School”, lengkap dengan arah panahnya, yang menunjuk ke pasar lembang, padahal kita sudah di jalan raya Maribaya – Lha kenapa ya arahnya berlawanan? Ternyata spanduk tadi dipasang di tiang listrik dengan cara diikat, tak mustahil kena angin hingga berubah arah – jadilah kita meneruskan perjalanan ke arah berlawanan panahnya spanduk! 🙂

Ngga disangka terlalu jauh, berpelan-pelanlah kita menyusuri jalan ke arah pemandian air panas Maribaya, dikira Pondok Pesantrennya sebelum Maribaya, eh, ternyata sudah sampai tempat parkir Maribaya masih belum nampak juga Nurul Fikri Boarding School – bertanyalah kita ke petugas parkir Maribaya, “Pak, Pondok Pesantren Nurul Fikri sebelah mana ya?” “Masih jauh pak terus aja sekitar enam kilo lagi” – terbesitlah disudut pandangan sekitar tigapuluh meter ke depan di pinggir jalan, lagi-lagi sebuah spanduk kecil Nurul Fikri diikat di tiang listrik! Wah, bener nih masih jauh kayaknya.

Mobil kita bergerak, mataku kerap memperhatikan kilometer di perangkat mobil, istri dan anakku memperhatikan spanduk-spanduk kecil pinggir jalan – melalui daerah berpohon banyak – dan ada monyet satu-dua – yang kemudian membuka ke daerah tak berpohon banyak, nun di sana nampak kota kecil dan keramaian – sebelum pasar sebelah kiri ada Taman Rekreasi Air, sebelah kanan ada tukang batagor, di depan ada belokan ke arah yang tak ramai, kilometer belum menunjukkan enam kilo. Hah, tempat main air di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut? Nggak kedinginan tuh? Menggelengkan kepala dan bermunajat bahwa semoga tak akan ada Mall di sini, kita menuju ke luar desa.

Setelah belokan mulailah tambah aneh, sebab sudah tak ada lagi spanduk-spanduk mini Nurul Fikri. Jangan-jangan, terlewat? Bertanyalah kita ke masyarakat pinggiran desa, dimanakah Pondok Pesantren Nurul Fikri? … dari tukang ojeg sampai ibu-ibu jawabannya tak sama, ada yang bilang masih jauh di desa yang akan datang (tapi kan udah ngga ada spanduk? tapi cocok juga ya soalnya belum enam kilo), ada yang nanya pondoknya kyai mana, bahkan ada yang bilang udah kelewat!!!

Di sinilah saya sudah mulai agak geli ingin tertawa, jangan-jangan ini hanya masalah istilah dan tutur bahasa saja ya? 😕

Kita sepakat untuk putar balik dan mencoba bertanya ke masyarakat sekitar pusat desa dekat tukang batagor dan SD tadi. Jawabannya sama! tiga macam! – semakin gelilah saya. Ya udah kita coba balik lagi ke arah Maribaya pelan-pelan, siapa tau pondoknya nampak dari pinggir jalan, lagian putriku seolah melihat sebuah spanduk besar katanya.

Sampai di spanduk besar, eh, ternyata spanduk utama tempat taman air tadi! Bergeraklah kita ke arah Maribaya dan Bandung kembali … di tengah jalan ada tukang cincau dorong berjalan ke arah berlawanan mobil … Cincau! Mauuu! parkir balik lagi deh! … ternyata paman cincau ada yang beli, sebuah rumah yang nampaknya agak kosong menjadi tempat berhentinya, sembari mengucapkan salam, minta izin boleh ikut makan cincau dan memesan cincau, saya perhatikan tuan-tuan yang sedang menikmati cincau, nampaknya orang tempatan nih, pikirku.

Dalam bahasa sunda, “Maaf pak mungkin tahu di mana Pesantren Nurul Fikri?” muka mereka nampak agak heran dan bingung – Nurul Fikri? Pesantren? Pesantren sih masih jauh pak! (saya tambah yakin ini masalah istilah) – “tapi kalo pe ka es juga ada sekolah kok pak!” “Itu tuh dekat lapang” (bola) sembari menunjukkan ke arah Maribaya kembali di mana tak banyak bangunan pinggir jalan. Putriku yang sedang berpuasa pun turun dan urun nimbrung. “Oh ini Neng yang mau mondok?” … “Masih jauh pesantren mah, neng!” … “Pe ka es kali? Deket Pe ka es mah, tuh di sana!” … pada saat-saat yang semakin geli dan lucu ini, karena saya sudah yakin bahwa ini masalah istilah, tibalah seorang Ojeg … “Taaaah ieu yeuh pasti tau nih, pak tanya dia aja, daerah sini mah dia tau semua!”

Sembari menikmati cincau kedua dengan gula merah dan santan khas pedesaan yang lekoh dan maknyos – pedo kalo kata orang sini – aku bertanya, “Kang punten Pondok Pesantren Nurul Fikri masih jauh ngga?” Mulailah terjadi obrolan silang antara tiga bapak-bapak, yang juga setengah yakin dengan pertanyaanku.

Tak lama kemudian memecah serunya diskusi antara tiga bapak-bapak tempatan, akhirnya saya koreksi pertanyaan saya, “Pak, gini aja deh, kalau Nurul Fikri Boarding School di mana?” Serentak, semuanya, dari tukang Ojeg, tukang bangunan, bapak-bapak yang ada di rumah kosong tadi, sampai ke tukang cincaunya sendiri, dengan mata terbelalak, “Oooooooooo Boarding School?” (dengan school-nya agak dipanjangin banget) – – – kemudian dengan senyum dalam bahasa sunda saya berujar, “Betul sekali pak Boarding School kan Pondok Pesantren juga” “hanya bahasanya saja beda, satu bahasa Inggris, satu bahasa kita” – – – putriku Bashirah tak bisa menahan tawa riangnya.

Ternyata memang dekat lapang bola, belok kanan setelah lihat lapang bola katanya. Aku bilang ni pasti lapang bolanya lapang asal-asalan deh, pokoknya agak rata dan agak banyak rumput dan agak luas deh, ngga akan nampak gawang gol segala macam. Eh, bener, begitu ada yang agak luas rata – yang kira-kira kalau ada pasar malam pasti dipakai – ada jalan kecil ke kanan, masuklah kita.

Nurul Fikri memang di sini, di dalam, luas, dan cukup menawan, tak kurang dari seribu dua ratus tiga puluh dua meter di atas permukaan laut, dan waktu Zuhur tiba, matahari sedang terik-panasnya, namun hanya 26 derajat, ya, itulah ketinggian, katanya setiap 100 meter berkurang sekitar satu derajat celcius. Di Jakarta kayaknya 38 derajat tuh kalo gitu mah.

Melengkapi kunjungan kita, sang kepala sekolah yang sedang menjadi penerima tamu dan mengajak berkeliling pun sempat diajak bergurau oleh istriku, “Pak, ini kan pondok pesantren ya, kok nggak ditulis gitu?” Kepala Sekolah: “Ya ini kan boarding school artinya pondok pesantren kok, bu!”

Istriku dan putriku Bashirah hanya bisa tersenyum simpul.

Postscript – Moral of the Story

Ada istilah lain yang mungkin bisa lebih tepat merinci peran pendidikan – atau edukasi – dalam bahasa Inggris “Education” sering diganti dengan “Bringing Up” agar lebih sesuai fungsinya. Di bahasa Indonesia mungkin bisa dipakai “Mengangkat Harkat dan Martabat” atau pendeknya “Menumbuh-Kembangkan” atau “Pengembangan”…

…dengan kata lain, kira-kira sebagaimana besarnya guna sebuah Boarding School (Pondok Pesantren) yang mayoritas muridnya berasal dari kota-kota besar atau dari keluarga ekonomi menengah ke atas, jika lembaga studi itu sendiri tidak (belum) sanggup membantu masyarakat tempatan sekitarnya untuk memahami bahwa Boarding School = Pondok Pesantren?

Semua Masyarakat Madani yang besar dan Agung – TANPA KECUALI – pasti telah berhasil merubah budaya penduduknya kepada peringkat yang lebih baik {baca: pengembangan berhasil = pendidikan berhasil}. Quo Vadis Indonesia?

About a.i.adjie

Born in Bandung in 1963 from multi-ethnic parents, followed their diplomatic posts in London from '66 to '70 and Geneva from '70 to '72. Brought up in Bandung since then except, of course, the odds of travelling and ends of life.

Diskusi

Komentar ditutup.

media partner

Services by UKdeenstay

Untuk mengikuti blog ini dan mendapat info tulisan terbaru melalui Surel, masukkan alamat Surel Anda.

%d blogger menyukai ini: